JATINANGOR – Dalam rangka acara Dies Program Studi Hubungan Masyarakat yang ke-3, Kamis (17/11) Prodi Humas bekerjasama dengan PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV) mengadakan acara kuliah umum dengan tema “Public Relations di Industri Televisi” di Ruang Moestopo kampus Fikom Unpad Jatinangor. Acara yang dibuka oleh Manager Pembelajaran Fikom Unpad Dr. Agus Setiaman, M.Si, menghadirkan Nugroho Agung selaku Head of Corporate Communication ANTV sebagai pembicara, dan dihadiri oleh dosen-dosen Prodi Humas dan sejumlah mahasiswa.

Acara ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada mahasiswa mengenai profesi PR di Industri Televisi. Untuk itu dihadirkan Nugroho Agung, seorang praktisi PR yang memiliki pengalaman lebih dari 12 tahun di industri Televisi. Acara ini juga menjadi jembatan Prodi Humas bekerjasama dengan Departemen Corporate Communication ANTV untuk melakukan penelitian, kunjungan dan pemagangan bagi mahasiswa Prodi Humas Fikom Unpad.

Menurut Nugroho Agung, menjadi PR di industry televisi itu menyenangkan, karena atmosfer industri televisi yang dinamis dan banyak tantangan. Saat ini di Indonesia, televisi masih menjadi menjadi hiburan utama bagi masyarakat, meski demikian televisi harus mulai mengubah strategi marketingnya tidak hanya conventional marketing tapi juga digital marketing. Seperti Stasiun telvisi nasional ANTV yang sudah 23 tahun mengudara dan menjangkau lebih dari 160 Kota dan Kabupaten di Indonesia, beberapa tahun belakangan ini mulai menggunakan berbagai platform media social sebagai bagian dari promosinya.

Saat ditanyakan mengenai kompetensi apa saja yang harus dimiliki seorang PR di Indistri Televisi, Nugroho Agung menjawab, PR televisi harus mampu menjadi spokesperson bagi perusahaan, mampu berfikir strategis dan analisis, memiliki keinginan untuk mendengarkan, kemampuan menulis, pengetahuan mengenai produk-produk perusahaan dan mampu bekerjasama dalam tim maupun mandiri. Stasiun TV membutuhkan seorang PR untuk membangun corporate image disamping bersaing dengan stasiun televisi lain dalam hal rating. Stasiun TV juga menghadapi stakeholder yang memiliki beragam kepentingan, belum lagi isu-isu sensitif seperti agama, sara, kekerasan, pornografi, politik, UU penyiaran, dsb. Karena itu menurutnya, “menjadi PR itu bukan modal rok pendek hahahehe doang.. jadi PR itu harus pintar!”